Minggu, 21 November 2010

Istihdad atau Mencukur Rambut Kemaluan

Istihdad adl mencukur rambut kemaluan. Perbuatan ini diistilahkan istihdad krn mencukur dgn menggunakan hadid yaitu pisau cukur.
Dalam hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma yg diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari hadits ‘Aisyah dan hadits Anas yg diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim istihdad ini disebutkan dgn lafadz: حَلْقُ الْعَانَةِ . Pengertian ‘anah adl rambut yg tumbuh di atas kemaluan dan sekitarnya.
Istihdad hukum sunnah. Tujuan adl utk kebersihan. Dan istihdad ini juga disyariatkan bagi wanita sebagaimana ditunjukkan dlm hadits:
أَمْهِلُوْا حَتَّى تَدْخُلُوا لَيْلاً – أَيْ عِشَاءً – لِكَيْ تَمْتَشِطَ الشَّعِثَةُ وَتَسْتَحِدَّ الْمُغِيْبَةُ
“Pelan-pelanlah jangan tergesa-gesa hingga kalian masuk di waktu malam –yakni waktu Isya’– agar para istri yg ditinggalkan sempat menyisir rambut yg acak-acakan/kusut dan sempat beristihdad .”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma:
إِذَا دَخَلْتَ لَيْلاً فَلاَ تَدْخُلْ عَلَى أَهْلِكَ حَتَّى تَسْتَحِدَّ الْمُغِيْبَةُ وتَمْتَشِطَ الشَّعِثَةُ
“Apabila engkau telah masuk ke negerimu mk janganlah engkau masuk menemui istrimu hingga ia sempat beristihdad dan menyisir rambut yg acak-acakan/kusut.”
Yang utama rambut kemaluan tersebut dicukur sampai habis tanpa menyisakannya. Dan dibolehkan menggunting dgn alat gunting dicabut atau bisa juga dihilangkan dgn obat perontok rambut krn yg menjadi tujuan adl diperoleh kebersihan.
Al-Imam Ahmad rahimahullahu ketika dita tentang boleh tdk menggunakan gunting utk menghilangkan rambut kemaluan beliau menjawab “Aku berharap hal itu dibolehkan.” Namun ketika dita apakah boleh mencabut beliau balik berta “Apakah ada orang yg kuat menanggung sakitnya?”
Abu Bakar ibnul ‘Arabi rahimahullahu berkata “Rambut kemaluan ini merupakan rambut yg lbh utama utk dihilangkan krn tebal banyak dan kotoran bisa melekat padanya. Beda hal dgn rambut ketiak.”
Waktu yg disenangi utk melakukan istihdad adl sesuai kebutuhan dgn melihat panjang pendek rambut yg ada di kemaluan tersebut. Kalau sudah panjang tentu harus segera dipotong/dicukur.
Pendapat yg masyhur dari jumhur ulama menyatakan yg dicukur adl rambut yg tumbuh di sekitar zakar laki2 dan kemaluan wanita.
Adapun rambut yg tumbuh di sekitar dubur terjadi perselisihan pendapat tentang boleh tdk mencukurnya. Ibnul ‘Arabi rahimahullahu mengatakan bahwa tdk disyariatkan mencukur demikian pula yg dikatakan Al-Fakihi dlm Syarhul ‘Umdah. Namun tdk ada dalil yg menjadi sandaran bagi mereka yg melarang mencukur rambut yg tumbuh di dubur ini. Adapun Abu Syamah berpendapat “Disunnahkan menghilangkan rambut dari qubul dan dubur. Bahkan menghilangkan rambut dari dubur lbh utama krn dikhawatirkan di rambut tersebut ada sesuatu dari kotoran yg menempel sehingga tdk dapat dihilangkan olehorang yg beristinja kecuali dgn air dan tdk dapat dihilangkan dgn istijmar .” Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullahu menguatkan pendapat Abu Syamah ini.
Mencukur rambut kemaluan ini tdk boleh bahkan haram dilakukan oleh orang lain terkecuali orang yg dibolehkan menyentuh dan memandang kemaluan seperti suami dan istri.

Sumber : http://blog.re.or.id

Label: ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda